Jumat, 14 Oktober 2016

Perempuan Yang Bersyukur

 Perempuan yang Bersyukur.

“Ma, perempuan yang paling mama suka itu yang seperti apa?” tanyaku suatu sore.
“Mama suka sama perempuan yang mudah bersyukur.” jawabnya.
“Itu yang paling cantik menurut Mama?” aku menegaskan pertanyaan.
“Iya, perempuan yang mudah bersyukur adalah perempuan yang paling cantik.”ujarnya.
* * * *
Percakapan itu lebih dari berharga. Melewati siang dan malam, melewati ribuan kilometer, melewati begitu banyak detik. Pertanyaan dan jawaban yang baru dimengerti setelah semua jarak dan waktu telah ditempuh.
Aku tidak tahu maksud Mama tentang perempuan yang mudah bersyukur itu seperti apa. Aku hanya mengiyakan kala itu. Setelah pertanyaan dan jawaban itu terjadi, aku baru memahami hari ini betapa cantiknya perempuan yang mudah bersyukur.
Ditengah obrolan-obrolan di ruang laki-laki bersama teman-teman sebaya. Begitu banyak laki-laki yang resah dengan status pekerjaannya, juga penghasilannya. Ditengah harga rumah yang melangit, harga kebutuhan pokok yang mahal, apalagi harga susu bayi. Di tengah rekan-rekan wanita di lingkungan kerjanya yang menurut mereka “high-maintenance” yang memerlukan banyak biaya untuk gaya hidup. Obrolan tentang keresahan finansial laki-laki selalu jadi tren yang tidak surut. Juga tuntutan keluarga dan masyarakat tentang kemapanan. Kata “kemapanan” selalu jadi monster yang paling menakutkan bagi laki-laki. 
Juga obrolan-obrolan di ruang perempuan, tentang ketidakyakinannya dengan laki-laki yang dekat atau mendekatinya saat ini. Tentang pekerjaan dan lagi-lagi, perihal kemapanan. Didukung oleh pertanyaan beruntun dari orang tuanya, dia kerja apa, dimana, berapa gajinya, dan segala bentuk interogasi yang menguliti sisi harga diri laki-laki.
Hidup di zaman yang sangat meterialistik ini, segala sesuatu diukur secara materi. Dikalkulasi secara matematis, didata dengan benda-benda dan kepemilikan. Dan semakin ke sini, semakin menjadi-jadi.
Di tengah keresahan itu. Aku menjadi paham apa maksud Mama. Perempuan yang paling cantik adalah perempuan yang mudah bersyukur. Bersyukur atas rezeki yang diberikan kepadanya melalui laki-laki yang menjadi pasangannya. Bersyukur dan mendukung setiap usaha baik dari laki-laki yang ingin terus menafkahinya. 
Rasa syukur yang membuat laki-laki merasa aman dan tenteram terhadap setiap jihad dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangga. Rasa syukur dari perempuan yang dicintainya, yang membuatnya percaya diri untuk membangun usaha-usahanya. Rasa syukur dari perempuan yang ingin dia bahagiakan dan jaga kehidupannya.
Bukankah begitu banyak laki-laki yang berlaku curang, korupsi, melakukan penipuan proyek, manipulasi anggaran, minta bagian, dan hal-hal semacam itu. Banyak yang karena tuntutan perempuan yang kurang bersyukur atas rezeki yang didapat. Selalu merasa kurang, selalu merasa tidak cukup dan ingin lebih banyak.
Aku semakin mengerti apa maksud Mama. Meski aku tahu, menemukan perempuan yang mudah bersyukur itu sebuah tugas yang tidak mudah, apalagi hari ini. Perempuan yang mudah bersyukur adalah perempuan yang paling cantik, rasa syukur atas segala hal yang ada dan berasal dari laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya.
Tentu saja, itu tercermin dari Mama dan Bapak, orang terdekat yang paling aku pahami tentang betapa rasa syukur mama yang begitu tulus, membuat papa menjadi orang yang menurutku paling bahagia. Segala hal baik Bapak kerjakan demi kehidupan mama dan keluarga yang lebih baik, Mama tidak pernah menuntut lebih, tidak juga meminta. Mama adalah perempuan yang penuh rasa syukur. 
Dan aku menjadi tahu, Jodoh dan takdir selalu pasti. 
Malang, 8 Oktober 2016

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;