Rabu, 26 Desember 2012

Museum Seni Rupa dan Keramik





·                    Sejarah Gedung
  Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik yang merupakan hasil karya arsitek atau Hoofd Ingenier Jhr. W.H.F.H. Van Raders ini dibangun pada tahun 1870 . Bangunan ini mempunyai ciri arsitektur gaya Neo Klasik. Pada awalnya gedung ini digunakan sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad Van Justice Binnen Het Casteel Batavia) 21 Januari 1870, pada masa Batavia diperintah oleh Gebernur Jenderal Picter Mijer. Pada masa pendudukan Jepang dan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini dijadikan sebagai asrama NMM (Nederlandsche Mission Militer) oleh tentara KNIL. Pada masa kedaulatan Republik Indonesia diserahkan kepada TNI dan dimanfaatkan sebagai gudang logistik. Selanjutnya pada tahun 1970 - 1973 digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat.Pada tahun 1974 dilakukan renovasi atau pemugaran gedung kemudian digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Atas gagasan Wakil Presiden Adam Malik, tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Di dalam gedung ini terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977.

         Semenjak tahun 1990 - sekarang, Balai Seni Rupa digabung dengan Museum Keramik menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya dan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, Museum Seni Rupa dan Keramik termasuk ke dalam golongan A. Bangunan ini dilindungi oleh SK Mendikbud Nomor 0128/M/1998. 

Ø   Koleksi Seni Rupa

        Museum ini memiliki 500-an karya seni rupa terdiri dari koleksi lukisan dan patung Koleksi lukisan tertua berupa lukisan Bupati Cianjur karya R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880). Dari masa Mooi Indie (1908-1936) terdapat koleksi lukisan yang mengacu pada keindahan karya Wakidi, M. Pirngadi, Ernest Dezentje serta Basuki Abdullah. Masa Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1938) yang menjadi masa kebangkitan seni rupa di Indonesia diwakili lukisan karya Agus Djaya, S. Sudjono, Henk Ngantung, Emiria Sunassa, RGA Sukirno dan lain-lain. Masa Revolusi/Pendirian Sanggar (1945) terdapat lukisan karya Sudjono Kerton, Affandi, Trubus, Hendra Gunawan, Barli Sasmita dan lain-lain. 

       Kemudian dari masa Lahirnya Akademi (1950an) terdapat lukisan Kusnadi, Widayat, Bagong Kusudihardjo, Abas Alibasyah, Sunarto PR, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi, AD Pirous, Amang Rahman, Rudi Isbandi, OH Supono dan lain-lain. Tahun 1960-an terdapat koleksi Nyoman Gunarsa, Mulyadi, Joko Pekik. Tahun 1970an terdapat lukisan karya Abdulrahman, Sri Warso Wahono, Nunung WS.Tahun 1980an terdapat lukisan karya Ivan Sagito, Dede Eri Supria, Sarnadi Adam, Subandiyo. Kemudian dekade 90an terdapat lukisan karya Nasirun dan I Made Sukandana. Diantara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan amat penting bagi sejarah senirupa Indonesia. Koleksi tersebut berjudul Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan, Bupati Cianjur karya Raden Saleh, Ibu Menyusui karya Dullah, Seiko karya S. Sudjojo dan Potret Diri karya Affandi. Koleksi seni rupa yang lain yaitu patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis, dan simbolis karya I Wayan Tjokot, totem dan kayu patung karya seniman G. Sidharta, Oesman Effendi, Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi S, Fajar Sidik, Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsam, Mulyadi W, Abas Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton dan masih banyak seniman dari berbagai daerah.

Ø     Fasilitas Umum

 

·                    Fasilitas Penunjang

Fasilitas Penunjang yang terdapat di Museum Seni Rupa dan Keramik berupa : 
        Bagian dari Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik yang terdiri dari aula, plaza serta taman yang dapat dimanfaatkan untuk acara - acara tertentu, seperti : pameran temporer, seminar, lomba, maupun acara pernikahan. Untuk keperluan ini Museum Seni Rupa dan Keramik juga dilengkapi dengan areal parkir yang cukup luas.

        Perpustakaan Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki perpustakaan dengan sejumlah buku - buku   koleksi mengenai seni rupa dan keramik, yang dapat membantu mahasiswa / pengunjung / peneliti dalam mencari data, baik mengenai museum maupun yang berhubungan dengan koleksi seni rupa dan keramik. 

        Souvenir Shop Menyediakan berbagai macam souvenir, seperti t-shirt, mug, gantungan kunci, kalung, gelang dll yang dapat dibeli sebagai kenang - kenangan selama berkunjung di Museum Seni Rupa dan Keramik. Selain itu juga tersedia minuman ringan. 

Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas umum bagi pengunjung berupa mushola dan toilet. 
 

·                     Visi

Menjadikan Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai pusat pelestarian seni rupa Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf internasional
.

·                     Misi 

1. Meningkatkan sumber daya manusia 
2. Meningkatkan pelayanan pengunjung 
3. Melakukan penataan ruang koleksi secara berkala 
4. Meningkatkan kerjasama dengan mitra museum 

·                     Tugas Pokok 

       Melayani masyarakat dan pengunjung serta mengadakan, menyimpan, merawat, mengamankan, meneliti koleksi, memperagakan dan mengembangkan untuk kepentingan pendidikan, sejarah, kebudayaan, rekreasi, sosial dan ekonomi, baik langsung maupun tidak langsung.

·                     Fungsi

1. Penyusunan program dan rencana kegiatan operasional 

2. Pengusulan pengadaan koleksi serta sarananya 
3. Penyelenggaraan usaha - usaha, publikasi, pameran koleksi dan pemasaran 
4. Pelaksanaan pembuatan deskripsi dan registrasi koleksi 
5. Penyimpanan, penataan dan perawatan koleksi 
6. Penelitian koleksi 
7. Pemberian bimbingan dan pelayanan edukatif kultural kepada masyarakat 
8. Penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan museum 
9. Pelayanan informasi tentang seni rupa dan keramik 
10. Penyusunan kegiatan ketatausahaan




Saya pengunjung memperhatikan sebuah lukisan berjudul pada pembukaan pameran "Lukisan 10 Pelukis Perempuan Jakarta" di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Selasa (11/12) malam. Pameran tersebut akan berlangsung hingga 20 Desember mendatang.

Ø      Program Edukasi


         Museum sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal didalam masyarakat, sudah seharusnya dapat berperan sebagai pusat informasi, pusat rekreasi serta sebagai pusat belajar dengan cara memberi pelayanan yang bersifat edukatif, rekreatif dan inspiratif yaitu membantu mengembangkan ilmu pengetahuan dan rasa senang masyarakat terhadap koleksi museum, kemudian menginspirasi mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
         Untuk keperluan diatas, Museum Seni Rupa dan Keramik menawarkan program edukasi sebagai penunjang koleksi museum serta sebagai jembatan bagi masyarakat pengunjung untuk lebih mengenal dan memahami koleksi yang dimilikinya berupa program workshop/pelatihan membuat keramik dan melukis yang dapat diikuti oleh seluruh pengunjung museum, baik secara perorangan maupun secara kelompok.
         Metode Pelatihan Keramik ini berupa pemberian materi oleh instruktur yang disertai dengan praktek langsung sampai tahap pembentukan yaitu tahap pembuatan tanah liat menjadi bentuk-bentuk benda keramik yang diinginkan. Dari program edukasi ini pengunjung juga akan diberikan pengetahuan tentang proses pengolahan bahan sampai tahap pembakaran. Sementara untuk workshop melukis, pengunjung dapat belajar melukis dari membuat sketsa, melukis dengan cat air maupun melukis dengan cat minyak.

Ø    Workshop


·                     Mengenal Keramik

          Keramik adalah tanah liat yang dibakar pada suhu tertentu sehingga secara kimiawi telah berubah menjadi satu bentuk yang permanen. Ada beberapa istilah yang dikenal untuk tanah liat bakar (baked clay) seperti terakota yang berbahan tanah merah, pottery, earthenware, stoneware dan porcelain. Namun demikian istilah keramik cenderung digunakan untuk barang - barang yang diglasir, terbuat dari batuan (stoneware) dan porcelain. Sedangkan untuk earthenware dan pottery disebut dengan tembikar. Ada juga istilah lokal yang digunakan, seperti di Jawa yang menyebut tembikar dengan istilah gerabah. Jenis-jenis keramik berdasarkan bahan dan suhu pembakaran adalah : Earthenware (tembikar) adalah keramik berbahan dasar tanah liat yang banyak mengandung campuran lain dan dibakar pada suhu pembakaran 3500 ºC s.d. 1.0000 ºC. Jenis keramik ini bersifat menyerap air karena memiliki permeabilitas yang relatif sedang sampai tinggi dan berpori banyak. 

         Stoneware (batuan) adalah keramik berbahan dasar tanah liat yang bersifat silika (kaca) yang dapat berubah secara fisik karena dibakar pada suhu 1.1500 ºC s.d. 1.3000 ºC . Jenis ini tidak menyerap air karena permeabilitasnya relatif rendah tetapi tidak tembus cahaya. Porcelain (porselin) adalah keramik berbahan dasar kaolin (tanah liat putih) dan feldspar (tanah putih dari batu granit yang membusuk) dan dibakar pada suhu 1.2500 ºC s.d. 1.3500 ºC. Jenis ini tidak berpori dan dapat tembus cahaya (translucent). 
·                     Bahan
         Bahan umum atau bahan utama keramik adalah tanah liat (clay) yaitu deposit partikel terhalus akibat proses pelapukan batuan-batuan tertentu yang memiliki komposisi utama aluminium, silikat dan kaolin. Berdasarkan terdepositnya, tanah liat dibedakan menjadi tanah liat primer dan tanah liat sekunder. Tanah liat primer (misalnya : kaolin) yang bersifat tidak plastis dan biasa digunakan untuk keramik adalah tanah liat yang terdeposit ditempat bebatuan induknya sehingga untuk memperolehnya dengan cara ditambang. Sedangkan tanah liat sekunder (misalnya : tanah liat merah) yang bersifat lebih plastis dan digunakan untuk tembikar adalah tanah liat yang terdeposit jauh dari bebatuan induknya, biasanya di daerah berair. 

         Bahan khusus adalah bahan lain yang berhubungan dengan keramik misalnya bahan glasir yaitu lapisan kilap seperti kaca pada permukaan keramik. Bahan glasir terdiri dari bahan utama yang sangat dominan seperti silika dan boraxs, bahan pencampur yang berfungsi sebagai modifier seperti oksida garam, timah hitam, magnesium dll, serta bahan pewarna seperti tembaga, chromium, timah putih, dll. 

·                     Proses

         Proses adalah tahap suatu benda keramik terbentuk yang meliputi : Proses Penyiapan (preparatin) Proses penyiapan bahan utama adalah membersihkan kotoran yang terkandung didalam tanah liat dan menyiapkan adonan bahan keramik yang siap pakai. Sedangkan bahan glasir bisa disiapkan dalam bentuk cairan maupun bubuk. 

         Proses Pembentukan (forming) Proses pembentukan keramik terdiri dari tahap pembentukan awal dan akhir. Pada kedua tahap tersebut keramik dapat dibentuk dengan berbagai teknik, baik dengan alat maupun tidak yang terdiri dari teknik pijat, teknik spiral, teknik cincin, teknik lempeng, teknik cetak, teknik roda putar, teknik tatap pelandas, dan teknik gabungan yang merupakan perpaduan dari berbagai teknik. 

         Proses Penggarapan Permukaan (surface treatment) Proses ini berupa penghalusan permukaan dan pemberian hiasan (dekorasi). Penghalusan permukaan untuk membuat keramik tampak bagus sekaligus memperkecil dan merapatkan pori - pori pada permukaan keramik. Pemberian hiasan adalah dekorasi yang ditambahkan pada permukaan benda keramik dan dilakukan dengan teknik lukis,tekan,gores,cukil dan tempel. 

         Proses Pengeringan (drying) Proses ini dibutuhkan untuk mengurangi kadar air yang terdapat dalam kandungan adonan keramik serta mempersiapkan keramik dalam satu kondisi siap baker. 

·                     Pembakaran (firing)
a. Jenis Pembakaran.
         Pembakaran pada bahan utama yang melewati tiga tahap yaitu dehidrasi, oksidasi dan vitrifikasi 
Pembakaran bahan khusus yang terdiri dari pembakaran langsung ketika glasir diberikan saat keramik masih mentah tapi dalam kondisi siap bakar serta pembakaran tidak langsung ketika glasir dilakukan pada keramik yang sudah dibakar setengah matang (biscuit). 
b. Teknik Pembakaran.
        Pembakaran dengan suhu rendah yang biasa dilakukan ditempat terbuka sehingga pengendalian api dan suhu panasnya ditentukan oleh cuaca. 
Pembakaran dengan suhu tinggi diperoleh bila menggunakan tungku pembakaran yang tertutup (kiln).

·                     Denah Gedung

·                     Alamat

Museum Seni Rupa dan Keramik
(Taman Fatahillah)
Jl.Pos Kota no.2
Jakarta Barat
Telp. (021) 6926090, (021) 6907062
Fax. (021) 6926091
museumsenirupa_k@yahoo.co.id
Website: http://museumsenirupa.com/   

Sumber : Brosur Seni Rupa dan Keramik

1 komentar:

Isur Arc mengatakan...

bang dapat denah bangunan ini dari mana?

Poskan Komentar

 
;